Selasa, 22 November 2011

MAKALAH PEMATAHAN DORMANSI

BAB 1.PENDAHULUAN
PEMATAHAN DORMANSI
1.1 LATAR BELAKANG
Benih dari spesies tanaman,mempunyai sifat dapat menunda perkecambahannya sampai benih tersebut menemukan kondisi lingkungan yang optimum untuk berkecambah. Akan tetapi tidak semua benih yang ditanamn dalam kondisi tumbuh optimum akan berkecambah, meskipun sebenarnya benih tidak mati. Benih hidup yang mempunyai sifat demikian disebut benih dorman.
Dormansi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain yaitu impermiabilitas kulit biji terhadap air atau gas ataupun resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, embrio yang rudimenter, after ripening, dormansi sekunder dan bahan-bahan penghambat perkecambahan. Benih yang mengalami dormansi ini dapat distimuluskan untuk berkecambah dengan suatu perlakuan mekanis, fisis, maupun kimia.
Benih yang berkulit keras seperti mengkudu atau famili Leguminoceae umumnya memiliki sifat dormansi disebabkan karena kulit biji keras sehingga impermiabel terhadap air atau gas atau embrio tidak dapat menembus kulit biji. Kadang benih diselimuti oleh lapisan lilin sehingga pengambilan air untuk proses perkecambahan terhalang. Perlakuan fisik dengan perusakan kulit (skarifikasi) misalnya pelukaan, goresan pada kulit benih merupakan salah satu cara meningkatkan permiabilitas benih dalam air maupun bahan kimia ditujukan untuk menghilangkan senyawa penghambat perkecambahan yang terdapat dalam kulit benih.
1.2 Tujuan
Untuk mempelajari dan mengenal penyebab dormansi benih sreta melakukan dan membandingkan berbagai metode pemecahan dormansi benih.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan.
Dormansi pada benih dapat berlangsung beberapa hari, semusim bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dormansinya. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya, atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut. Dormansi dapat dipandang sebagai salah satu keuntungan biologis dari benih dalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi yang kebetulan terjadi sehingga secara tidak langsung benih dapat menghindarkan dirinya dari kemusnahan alam.
2.1 Tipe Dormansi
Dormansi fisik: yang menyebabkan pembatasan struktural terhadap perkecambahan, seperti kulit biji yang eras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas pada beberapa jenis benih tanaman.
1)      Impermeabilitas kulit biji terhadap air
2)      Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio
3)      Permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas
Dormansi fisiologi: dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme, umumnya dapat juga disebabkan pengatur tumbuh baik penghambat atau perangsang tumbuh.
1)      Immaturity embrio
Beberapa jenis tanaman mempunyai biji dimana perkembangan embrio tidak secepat jaringan sekelilingnya.Sehingga perkecambahan dari benih-benih demikian perlu ditunda, sebaiknya benih ditempaykan pada kondisi temperatur dan kelembapan tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga samapi embrio terbentuk sempurna dan dapat berkecambah.
2)      After ripening
Peristiwa dimana benih tidak mau berkecambah pada waktu dikecambahkan meskipun telah diberi rangsangan yang biasa dipakai untuk mematahkan dormansi dan benih baru dapat berkecambah setelah disimpan selama jangka waktu tertentu.
3)      Dormansi sekunder
Benih-benih yang pada keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilanagan kemampuan untuk berkecambah.
4)      Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio
Banyak dari jenis-jenis benih tanaman diketahui peka terhadap cahaya.
2.2 Cara-cara untuk memecahkan dormansi
1.      Perlakuan mekanis
·         Skirifikasi: mencakup cara-cara seperti mengikir atau menggosok kulit biji dengan kertas ampelas, melubangi kulit biji dengan pisau, perlakuan impaction (goncangan) untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Hal tersebut bertujuan untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air dan gas.
·         Tekanan: benih-benih dari jenis tanaman tertentu (swee clover dan alfalfa) diberi perlakuan tekanan.
2.      Perlakuan kimia
Perlakuan dengan menggunakan bahan kimia sering pula dilakukan untuk memecahkan dormansi pada benih. Seperti contoh: asam sulfat dan asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah.
3.      Perlakuan perendaman dengan air
Beberapa jenis benih terkadang diberi perlakuan perendaman di dalam air panas atau di air dingin dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih.
4.      Perlakuan dengan cahaya
Cahaya tidak hanya mempengaruhi persentase perkecambahan benih, tetapi juga laju perkecambahan.Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari.

BAB 3. METODELOGI PRAKTIKUM
Alat dan Bahan
Alat
1.      Termometer
2.      Nampan
3.      Ampelas
4.      Baskom
5.      Alat penyemprotan air
Bahan
1.      Lamtoro
2.      Air
3.      Pasir
Prosedur Kerja
1.      Siapkan biji lamtoro, pilihlah bijinya yang bentuk dan ukuran yang seragam, tidak keriput atau cacat.
2.      Benih dipatahkan dormansinya dengan perlakuan sebagai berikut:
a.       Benih tanpa perlakuan
b.      Benih digosok dengan ampelas pada bagian ujungnya
c.       Benih direndam dalam air dingin dengan suhu 27˚ Celcius selama 12 jam
d.      Benih direndam dalam air hangat dengan suhu 54˚ Celcius selama 12 jam
e.       Benih direndam dalam air panas dengan suhu 74 Celsius selama 12 jam
3.      Kemudian, tanamlah benih masing-masing 20 butir untuk setiap perlakuan pada media pasir dalam nampan dan diberi tanda pada nampan untuk mengenal masing-masing pelakuan.
4.      Amati pertumbuhan benihnya.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil Dormansi
         Hasil dormansi benih yang kelompok kami lakukan hasilnya tidak baik, karena smua benih yang kami tanam semulanya berhasil muncul hipokotilnya, tetapi karena kelalaian kami hipokotilnya jadi kering dan ada juga yang tidak tumbuh karena perlukaan dan perlakuan yang kurang tepat.
4.2Hasil Perkecambahan
         Hasil perkecambahan benih yang kelompok kami lakukan hasilnya kami sangat puas karena semua benih yang kami tanam tumbuh dengan baik.

4.3 Tabel pengamatan perkecambahan
4.3.1 Jagung
Minggu
Banyak akar
Panjang akar
Jumlah daun
Panjang daun
I
7
10,75 cm
3
5,25 cm
II
11
29,2 cm
4
13,5 cm
III
16
30,5 cm
5
22 cm

4.3.2 Kacang tanah
minggu
Banyak akar
Panjang akar
Jumlah daun
Panjang daun
I
2
0.1 cm
11
0,7 cm
II
12
3,2 cm
20
0,75 cm
III
20
5 cm
31
2 cm

4.3.3 Kedelai
minggu
Banyak akar
Panjang akar
Jumlah daun
Panjang daun
I
2
11,5 cm
4
0,8 cm
II
9
22,5 cm
6
1,5 cm
III
16
33,5 cm
11
2,8 cm

4.3.4 Kacang hijau
minggu
Banyak akar
Panjang akar
Jumlah daun
Panjang daun
I
3
3,5 cm
2
4 cm
II
5
4,5 cm
6
4,25 cm
III
8
8,5 cm
9
5,2 cm

         



4.3.5 Tomat
minggu
Banyak akar
Panjang akar
Jumlah daun
Panjang daun
I
3
0,5 cm
2
1 cm
II
5
1,2 cm
4
1,5 cm
III
9
7,5 cm
5
4,5 cm

4.4 Tabel Pengamatan
1.      Pengamatan lamtoro yang hidup dan mati (selama satu bulan).
No
Tanpa Perlakuan
Air Dingin
Air Hangat
Air Panas
Diampelas

























4.5  Pembahasan
4.5.1Nama Kegiatan
Praktek pencangkokan dan setek

4.5.2Waktu dan Tempat Kegiatan
Pelaksanaan praktek cangkok, setek, dan dormansi benih dilaksanakan pada, hari Minggu, 18 Oktober 2011 s/d 30 November 2011. Praktek dilakukan di work shop FTP.

4.5.3       Hasil Kegiatan
4.5.3.1 Perkecambahan
     Hasil dari praktek yang kami lakukan untuk perkecambahan yang kita lakukan keberhasilan yang kita dapatkan cukup besar, yang berhasil kita kecambahkan yaitu benih padi (200 benih), jagung, kacang tanah, dan kedelai. Keberhasilan yang kami peroleh dikarenakan beberapa faktor yaitu:

a.       Faktor dalam
ü  Tingkat kemasakan benih
ü  Ukuran benih
b.      Faktor luar
ü  Air
ü  Temperatur
ü  Oksigen
ü  Cahaya
ü  Medium
4.5.3.2  Dormansi benih
Hasil dari praktek yang kami lakukan untuk dormansi benih yang kita lakukan tidak berhasil dengan ciri-ciri:
Ø  Benih tidak ada hipokotilnya
Ø  Hipokotil kering
Ø  Kulit biji tidak pecah

Hal yang perlu diperhatikan dalam pendormansian benih yaitu:
·      Perlukaan tehadap kulit biji
·      Perendaman dalam larutan kimia
·      Perendaman dalam air
·      Perlakuan dengan temperatur rendah dan tinggi
·      Perlakuan dengan cahaya
  



4.6 Gambar






Kedelai                                                           kacang hijau







Jagung                                                   kacang tanah












Benih padi                                                     Tomat















BAB 6. Kesimpulan
Dormansi dan perkecambahan merupakan cara untuk memperbanyak tanaman. Dalam proses perbanyakan tanaman akan berhasil jika melakukannya dengan cara yang baik dan benar, disamping cara kita merawatnya faktor iklim, pemilihan bibit, pemilihan media tanam juga mempengaruhi hasil dari perbanyakan tanaman tersebut. Disamping itu perlukaan dan perlakuan biji pada dormansi benih sangat mempengaruhi perkecambahan.


















Daftar pustaka

Heddy, S., Susanto, H. W., dan Kurniati, metty.1994.Pengantar produksi Tanaman dan Penanganan Pasca Panen.Jakarta: PT Raja Grafindo persada.
Sutopo, Lita. Tanpa Tahun. Teknologi Benih. Jakarta: CV Rajawali.
Prawiranata, W., Harran, Said., dan Tjodronegoro, Pin. 1981.Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Bogor: Fakultas pertanian IPB
Sutopo, L. Tanpa tahun.Teknologi benih.Jakarta: CV Rajawali.
Prawiranata, Harran, dan Tjondronegoro. 1981. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jilid II. Bogor: Fakultas Pertanian IPB.
Kuswanto, H. 1996. Dasar-Dasar Teknologi, Produksi dan sertifikasi benih. Yogyakarta: Andi.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar